
New Photos By : Lucky Peter Tattoo
Artist : Mr. Untung
“Lettering Tattoo”
Talent : Tasya Siregar
Rencananya Bloc Party akan tampil di Jakarta pada Rabu, 29 Desember esok dalam format DJ set. Ia akan tampil di Blowfish Kitchen and Bar di Wisma Mulia, Jakarta. Tur dengan format DJ set ini hanya menampilkan frontman Kele yang kini menjadi artis solo. Tiket presale yang terbatas jumlahnya sudah dijual sejak November lalu di dan dijual seharga Rp 100 ribu serta Rp 150 ribu di hari-H.
Velvet Revolver diberitakan telah menemukan vokalis baru yang akan menggantikan Scott Weiland yang meninggalkan band ini untuk kembali ke band lamanya, Stone Temple Pilots pada 2008 lalu. Praktis sejak dua tahun lalu Velvet Revolver tidak memiliki vokalis. Namun hingga kini pengganti Weiland belum dibeberkan namanya ke publik.
Pemain drum Zac Farro segera setelah keluar dari Paramore telah membentuk sebuah band baru bernama Tunnels. Namun seperti diberitakan oleh NME, gitaris Josh Farro tidak ikut bergabung di proyek baru yang hanya beranggotakan dua orang ini, dirinya dan seseorang bernama Jason Clark.
Gitaris Sonic Youth, Thurston Moore berencana merilis album solo terbarunya tahun depan. Album ini diproduksi dengan bantuan Beck.
I’m naked
I’m numb
I’m stupid
I’m staying
And if Cupid’s got a gun, then he’s shootin’
Lights black; heads bang
You’re my drug
We live it
You’re drunk, you need it
Real love, I’ll give it
So we’re bound to linger on
We drink the fatal drop
Then love until we bleed
Then fall apart…
Oleh : Wendi Putranto/Tasya Siregar
Awal pekan ini Rolling Stone kedatangan para personel grup hip-hop R&B asal Jakarta yang menamakan diri sebagai Soul ID. Setelah mengalami bongkar pasang personel - bahkan ditinggal wafat salah seorang personelnya- sejak terbentuk di tahun 2002 sebagai Soulid, kini mereka telah berubah menjadi trio yang terdiri dari Drusteelo, Tabib Qiu dan Jaydee.
Awal November silam mereka baru saja merilis double album terbaru dan paling ambisius yang pernah diciptakan oleh sebuah grup hip-hop R&B lokal selama ini. Museum Rekor Indonesia (MURI) bahkan mengganjar album ini dengan penghargaan sebagai Double Album Hip-Hop Pertama di Indonesia.
Album ganda bertitel LikeLoveLife (Rizky Rekordz) yang berisikan 36 lagu ini terbilang unik karena tidak dijual melalui toko CD/kaset konvensional seperti biasanya, melainkan melalui toko-toko buku Gramedia yang ada di seluruh Indonesia. Ajaibnya mereka bahkan tidak menjual ini sebagai double album CD melainkan di-bundling pula dengan sebuah notebook eksklusif disertai komik Soul ID.
Selama sekitar satu jam lebih Rolling Stone berbincang-bincang dengan para personel Soul ID dan mendengar berbagai cerita mereka tentang double album, protes terhadap industri musik, gagalnya rencana kolaborasi dengan Charly ST12, kolaborasi dengan rapper-rapper pendahulu hingga kondisi scene hip-hop terakhir di tanahair.
Mengapa kalian merilis double album, 36 track?
Tabib Qiu: Jadi album ini tadinya harusnya triple album, tiga album sekaligus. Konsepnya Like, Love, Life. Tapi karena ngeliat kondisi kami sendiri, akhirnya kami padatkan menjadi double album. Dari proses seleksi sekitar 100 lagu, maka terpilihlah 36 lagu ini.
Jadi untuk album ini kalian menciptakan 100 lagu?
Jaydee: Ya, kurang lebih segitu.
Drusteelo: Tapi 100 lagu nggak full complete song semua, ada yang belum berlirik, ada yang masih raw. Tapi musiknya udah ada.
Mengapa kalian bisa begitu hiper-kreatif?
Drusteelo: Karena ini album terakhir dari Soul ID. Kami mau kasih something special. Kayak kita ke toko CD aja. Apa sih yang kita cari? 1 CD isinya cuma 10 lagu. Dengan harga Rp 35-50 ribu. Dan buat kami nggak worth it aja. Harus ada value-nya. Walau memang sering ada bonusnya. Kami juga melihat kondisi industri musik sekarang. Untuk retail-nya nggak kayak dulu. Toko CD makin sedikit, dan pilihannya itu-itu aja. Itu juga alasan kami merilis album ini tidak melalui jalur distribusi itu (toko CD/kaset – red).
Contoh paling dekat ada di PIM, ada Gramedia dan ada Disc Tara, tetap aja Gramedia yang lebih ramai dikunjungin. Dulu kami juga pernah merilis lewat jalur distribusi konvensional seperti itu, tapi hasilnya nggak memuaskan. Selalu nggak jelas perputaran uangnya. Dan kami sebal sama stiker PPN sementara kami nggak mendapat apa-apa.
Kami pikirin jalur lain untuk mendistribusikan album ini. Jadi toko buku sasarannya. Kami memikirkan bagaimana memasukan produk kami ke toko buku. Timbulah ide bikin komik dan notebook, yang dapat bonus CD, sementara CD-nya berisi 36 lagu. Jadi dibalik idenya, orang mikirnya akan ada value-nya. Ada juga komik yang menjelaskan sejarah soul ID, dan dibikin fiksi.
Seperti komik superhero begitu?
Superhero lokal. (tertawa)
Jadi kalian sekarang berjualan notebook yang berhadiah CD? Atau ini hanya menyiasati packaging saja?
Drusteelo: Iya, cuma menyiasati packaging aja. Sebenarnya industrinya nggak ada masalah, tapi karena prosedur retail dan birokrasinya yang sangat berbelit-belit. Seharusnya kalau barang nggak laku dibalikin, ini aja susah minta kembaliin barang yang nggak laku.
Kenapa tidak mencoba sistem titip edar dengan label?
Drusteelo: Sudah, kami coba titip edar di Remix dan Java Indo, dan dua-duanya sekarang bangkrut. Sampai sekarang produk kami belum dibalikin.
Album terakhir Soul ID kapan beredar sebenarnya?
Drusteelo: Album terakhir kami rilis tahun 2008 dan itu mini album. Karena kami punya label, artis-artisnya barengan Pandji dan Yacko juga. Dan masalahnya sama juga, distribusi nggak lancar. Kadang album kami nggak ada di suatu daerah, meminta didistribusikan kesananya susah. Alasan mereka promo kami nggak kencang. Makanya mencoba menyiasati packaging-nya. Sama sekali CD sekarang ini nggak masuk retail musik. Tapi banyak juga sih yang cari di toko-toko CD. Dari situlah kami menjelaskan ke toko-toko tersebut. Kenapa? Karena nggak punya stiker PPN.
CD LikeLoveLife ini melalui proses penggarapan berapa lama?
Tabib Qiu: Setelah kami rilis mini album awal 2008 baru kami memikirkan tema album berikutnya. Jadi ini album yang beda dari album Soul ID yang lainnya karena temanya ditentukan di awal pembuatan album. Kalau yang lain biasanya temanya ditentukan setelah proses pembuatan album. Dimulai dari Maret atau April 2008 kalau nggak salah, beresnya Juni 2010.
Drusteelo: Karena ini baru pertama kali dicoba, sebenarnya ke toko buku sama aja ribetnya. Tapi ribetnya masuk akal. Dan jadi kami akhirnya melakukan praktik bagi hasil.
Dijual berapa harga paket CD dan notebook kalian ini?
Tabib Qiu: Kalau yang boxset, terdiri dari komik, notebook dan double CD itu Rp 180 ribu tapi nanti kami diskon jadi sekitar Rp 140 ribu. Kami keluarin dua versi. Yang satu boxset, yang kedua dengan kemasan plastik biasa. Kalau yang kemasan biasa sepaketnya Rp 125 ribu.
Apakah tidak kemahalan?
Drusteelo: Kalau dilihat dari harganya sih iya, tapi kalau dilihat dari value yang di dapat sih nggak. Kalau harga dari kami sih tadi maunya dibawah Rp 100 ribu, tapi dari pihak Gramedia sendiri, setelah berunding, nemu titiknya di harga segitu tadi. Ya semoga sih nggak kemahalan bagi yang menghargai kerja keras kami.
Siapa yang punya ide untuk merilis double album? Siapa yang menentukan visi dan segala konsepnya?
Drusteelo: Dari kami bertiga. Jadi executive producer-nya kami bertiga.
Termasuk menjadi music producer juga?
Drusteelo: Iya, song witing juga kami.
Sepertinya di album ini kalian curhat tentang industri musik, bahkan ada lagu yang membuktikan kalau kalian masih menjadi grup hip-hop. Bisa diceritakan?
Drusteelo: Sejak 2008 kami sudah rilis 5 single, “Boogie Time,” yang bergaya electronic, Latin, pokoknya macam-macam. Dan ada yang ngomong (kami bukan hip-hop lagi). Kebetulan mereka tahu Soul ID dari awal, sejak album pertama. Kami selalu mencoba keluar dari comfort zone. Siapa bilang kami nggak hip-hop? Kami masih hip-hop tapi hip-hop yang lebih berkembang, karena buat kami hip-hop bisa masuk ke pola mana aja. Tiap chapter nantinya kami akan merilis single.
Jaydee: Jadi kami agak berbeda dengan yang lain. Kalau yang lain rilis album dulu baru keluarin single. Kalau kami biarkan single dulu yang jalan, baru rilis album. Jadi terbalik. Kami keluarin single satu-persatu.
Tabib Qiu: Nanti Desember kami keluarin lagi.
Kalau perbedaan tema dari CD LikeLoveLife dan CD Equal saya kira awalnya tentang cinta dan politik, tapi ternyata tema CD LikeLoveLife juga masuk politik dan nasionalisme, bagaimana menjelaskannya?
Tabib Qiu: Kalau CD LikeLoveLive itu lebih berisi apa yang tentang kami suka, apa yang kami cintai. Dan efeknya lebih kepada kehidupan kami. Kalau CD Equal itu lebih kepada tema-tema yang sosial, nasionalisme. Jika kita hidup di dunia ini, meskipun berbeda-beda, tapi tetap berjalan beriringan. Jadi CD Equal obrolannya lebih keluar, eksternal, lebih mengajak, CD Like… lebih internal sifat obrolannya. Kalau lagu ”Rizky Bizznezz” itu ada di chapter Like.. karena kami suka bisnis yang menantang, dan sesuatu yang riskan. Paling nggak itu yang membuat kita untuk belajar mencari sesuatu yang baru.
Kalian menyanyikan puisi ”Jembatan” milik Sutardji Calzoum Bachri, siapa disini yang penggemar Sutardji?
Drusteelo: Jujur, kami sama sekali belum tahu siapa Sutardji sebelumnya. Jadi awalnya kami diajak manggung sama Jogja Hip-Hop Foundation, kami diminta bawain puisi itu tapi dibikin rap a la Soul ID. Itu bikinnya spontan dan instan, kami nggak pakai full band. Dan pas selesai manggung Iwa K meminta kami menjadikan puisi ini sebuah lagu karena semuanya pas, Jaydee nyanyi dan gue sama Qiu ngerap, saling mengisi. Tanpa kami kurangin sedikitpun kata-kata dari dalam puisi itu. Jadi awalnya atas motivasi Iwa K.
Sutardji sudah dengar single itu? Apa komentarnya?
Jaydee: Sudah, dia baikbanget orangnya, hanya mengangguk saja. Nggak banyak omong, seniman banget deh pokoknya. (tertawa)
Lagu ”Interupsi” bersama Pandji, bercerita tentang apa?
Drusteelo : Bercerita tentang orang-orang DPR, awalnya kami suka lihat di TV pas menyiarkan mereka sidang, dan mereka selalu menyela sidang dengan interupsi. Ide awalnya sih dari sana, Wizzow yang bikin beat-nya. Dan spontan dapetin chorus duluan sih.
Kalau kalian ini grup hip-hop yang politically correct atau bukan?
Drusteelo : Nggak sih, kalau dibandingin Pandji kami nggak terlalu (politis). Tapi kami nggak apatis, kami cuma bilang apa yang nyaman buat kami. Nggak kayak Homicide yang anti banget pemerintah. (tertawa).
Tabib Qiu : Kami itu grup hip-hop yang LikeLoveLife (tertawa)
Kalian bilang ini album terakhir, maksudnya?
Drusteelo : Ya, itu karena kesebalan kami sama industri ini. Album baru dirilis, sudah dibajak, kami selalu bilang anggap aja ini bikin album terakhir, jadi semuanya dimaksimalkan. Tapi entah mengapa ini jadi trigger buat Soul ID untuk bikin album yang terakhir aja. Untuk next-nya kami nggak bubar, lagi promo juga. Sebagai album, ini yang terakhir, tapi sebagai grup sih mudah-mudahan nggak.
Akan terus bertiga seperti ini?
Drusteelo: Bisa berempat, berlima, kami mau bikin kayak Wonder Girls (tertawa). Kami lagi cari market yang baru, tapi dengan modal yang nggak sebesar ini. Mungkin akan merilis single. Sekarang kami pingin eksplorasi di dunia elektroniknya.
Kalau pemasukan dari RBT sendiri?
Drusteelo: Kalau pemasukan dari RBT sih cukup lah yah. Istilahnya Soul ID punya uang kas untuk keperluan lain-lainnya. Kebanyakan itu digunakan untuk video klip sih.
Kalian semua full time di Soul ID?
Drusteelo : Iya, gue full time di Soul ID. Gue studio manager.
Tabib Qiu : Kalo gue sih sampingannya jadi anggota ormas, lebih kayak LSM, volunteer aja.
Jaydee : Tadinya gue desain pakaian dan menjadi stylist, cuma karena udah punya anak jadi nggak kepegang semuanya. Jadinya total di Soul ID aja.
Sebagai satu-satunya perempuan di grup, suara Anda didengar tidak oleh pria-pria ini?
Jaydee : Mereka sangat open minded sama aku, dan enaknya mereka juga sudah mengerti aku. Jadi mereka ikut membesarkan aku. Masukan mereka juga masuk akal. Jadi prosesnya bisa cepat, nggak perlu waktu lama.
Kalian membeli beat juga tidak?
Drusteelo: Iya, sebagian dari album ini kami beli beat-nya.
Siapa saja beatmaker itu?
Drusteelo : Wizzow, Ras Muhamad, Nila, Edo Kingstone, mereka semuanya rapper. Ada yang dari Surabaya, Yogya, Jakarta. Ada DJ juga. Yang paling menarik kami bekerjasama dengan Soul ID, grup asal Belgia yang namanya sama dengan kami. Awalnya kami mau mencari domain untuk website soulid.com tapi sudah ada yang pakai, ternyata ada grup namanya Soulid juga, tapi mereka bukan hip-hop sih, lebih ke neo soul. Terus gue message ke MySpace mereka, kami setuju untuk nggak mempermasalahkan nama grup kami yang sama. Kebetulan mereka lagi kerjain album, kami juga lagi kerjain album, makanya kami kolaborasi bareng via e-mail. Sebenarnya ada satu lagi grup Soul ID, band dari Jerman, tapi alirannya rock atau metal gitu sih (tertawa).
Jadi benar ini merupakan double album hip-hop pertama di Indonesia?
Drusteelo: Benar, kami dapat penghargaan dari MURI untuk album ini.
Dengan banyaknya penampilan artis tamu, apa tidak kesulitan untuk mengatur jadwal rekamannya?
Drusteelo : Cukup kesulitan sih, karena watak orang kan berbeda-beda, apalagi rapper-rapper yang old school, kayak Sweet Martabak, Blakkumuh, tapi banyak kesannya sih. Yang paling unik Blakkumuh, salah seorang rappernya nggak pernah mau nulis lirik sebelumnya tuh, jadi take-nya spontan dan memakan waktu sampai 6 jam. Padahal cuma 12 bar. (tertawa) Ada ritualnya. Pake ngobrol-ngobrol dulu.
Dengan Sweet Martabak dan Blakkumuh ada kesulitan? Apakah mereka masih aktif ngerap?
Drusteelo : Masih, kalau Blakkumuh, rapper mereka Erick punya band namanya Native. Sementara Adoy, dari Blakkumuh sekarang ngurusin TKW ke Hongkong (tertawa). Kendalanya deg-degan aja. Pengennya bikin reuni buat mereka.
Apa misi kalian berkolaborasi dengan mereka?
Drusteelo : Kalau Sweet Martabak dan Blakkumuh memang guru kami di hip-hop. Influence buat Soul ID. Secara personal mereka sering kasih nasihat. Kalau masalah style dengan lirik mereka bilang kami harus punya style sendiri, tonjolin yang berbeda. Dulu era mereka, sekarang kami regenerasi mereka. Jadi kalau yang humble gue diajarin sama Sweet martabak, kalau yang nakal-nakalnya diajarin sama Blakkumuh. Kalau Cas, kami lihat attitude-nya sangat menunjang dia untuk jadi seorang solois. Harapannya semoga bisa sama-sama saling mengangkat. Kalau Ras Muhamad dari pertama denger beat regenerasi kepikirannya sudah dia. Tadinya kami mau kolaborasi dengan musisi-musisi besar, tapi untungnya nggak jadi. Kayak di lagu “Cemburu” kami tadi mau kolaborasi dengan Charly ST12. Karena lagunya pop Melayu banget.
Wow! Itu ide siapa?
Drusteelo: Idenya karena dari lagunya.
Yang menciptakan lagu ”Cemburu” siapa?
Drusteelo: Jaydee yang menciptakan lagu itu.
Mengapa menciptakan lagu pop Melayu seperti itu?
Jaydee: Waktu dengerin beat-nya kayaknya common banget, ini Melayu banget deh. Tapi balik lagi kami menantang diri sendiri. Karena untuk melodinya bisa masuk sama Soul ID itu susah banget, nguliknya lama, ini nggak biasa aja. Begitu dapet, nyanyinya harus cewek dan cowok. Kami terus kepikiran sekalian ajak yang lagi heboh sekarang, yaitu Charly ST12, tapi lagi-lagi kepentok oleh label, nggak jadilah. Kami sengaja menaruh racun diantara madu-madu ini. (tertawa) Pokoknya ada rap-nya sedikit dibelakang, agak out of the box aja.
Kalian sendiri lebih sreg dibilang bergenre apa?
Drusteelo : Hip-hop, R&B, gangsta, West Coast. (tertawa)
Bicara rap atau hip-hop di Indonesia, yang jadi big break di industri adalah hip-hop dengan lirik-lirik yang lucu dan konyol, menurut kalian?
Tabib Qiu : Hip-hop kan awalnya happy, dan selalu mencari angle dari hal-hal yang sepele, dan itu jadi pattern, pola. Ya, memang kami sempat berpikir untuk menggunakan itu.
Jaydee: Sebenarnya ada di album ini yang judulnya “Cipika-Cipiki,” sebenarnya sangat catchy, tapi kami mau keluar dari stereotip hip-hop, memberikan variasi ke pendengar.
Tabib Qiu: “Cipika-Cipiki” sendiri idenya bukan berdasarkan fenomena, lebih karena kami waktu itu manggung di fashion show yang datang rata-rata socialite. Kelihatan banget mereka men-judge kami. Seperti ada gap kelas antara socialite dengan kami orang biasa. Satu kebiasaan mereka itu tadi “Cipika-Cipiki.”
Jaydee: Tapi sebenarnya waktu acara itu pun bukan cuma kami saja yang diperlakukan seperti itu, bahkan Mulan Jameela juga dipandang sinis seperti itu. Barulah ketika Marcell keluar mereka melting. Jadi ya dibikin fun aja. (tertawa)
Drusteelo: Sebenarnya lagu ini ngeledek sih (tertawa), kami bisa juga kayak begitu ke mereka, meskipun kami tahu mereka pasti nggak akan beli juga album ini (tertawa).
Kembali ke tema tadi, stereotip hip-hop lokal seperti itu, bagaimana menurut kalian?
Drusteelo: Buat kami sih nggak apa-apa. Pengennya hip-hop di Indonesia nggak cuma dianggap bisa lucu-lucuan aja. Banyak grup lain yang mengusung tema-tema lain juga. Tapi balik lagi ke selera musik orang-orang sini kan memang suka lagu catchy, dan gampang diinget dengan kata-katanya nyeleneh. Tapi ada bagusnya juga, orang-orang awam jadi lebih familier dengan hip-hop.
Keberatan kalau hip-hop jadi mainstream?
Drusteelo: Nggak sih, kami universtream (tertawa) dari awal nggak pernah memikirkan lagunya akan mainstream atau underground, yang bisa menilai pendengarnya. Tapi kalau wartawan yang awam, mereka lebih concern ke hal-hal yang enteng. Seperti saat launching album, kami di press release menulis “Assalamualaikum Fellas” dan kami malah bingung, sepanjang press conference, hal itu terus yang dibahas. Mungkin mereka nggak ngerti juga arti fellas itu. (tertawa)
Apakah Soul ID punya passion mengejar fame and fortune juga?
Drusteelo : Awalnya iya, tapi nggak kesampaian. Kalau di buku The Secret kan kita harus memvisualisasikan apa yang kita inginkan. Jadi di studio ada tuh gambar tumpukan duit dan tulisan best group of the year, awalnya kami jatuh cinta sama hip-hop karena glamorous, seperti yang biasa kita lihat di TV. Tapi itu dulu.
Apakah menurut kalian hip-hop disini berkembangnya lambat? Pengaruh kultur?
Drusteelo: Kalau menurut kami gabungan antara masalah kultur dan lain-lainnya.
Jaydee : Mungkin karena hip-hop genre paling muda yang masuk ke sini kali yah? Kalau pop, rock, jazz kan udah mendarahdaging. Hip-hop kan masih muda munculnya juga. Biar pelan tapi pasti sih menurut gue. Lumayan sekarang udah banyak jug artis yang masukin unsur hip-hop.
Tidak keberatan jika nanti ada band yang lebih kaya dan populer dari kalian setelah ikut dibukakan jalan karirnya oleh kalian?
Jaydee: Bagi kami sih nggak masalah (tertawa).
Drusteelo : Semoga mereka-mereka itu nantinya adalah anak-anak kami (tertawa)
Pink Floyd geram karena yang menjadi akar masalah kasus ini juga menyangkut royalti yang seharusnya mereka dapatkan dari EMI sebesar US$ 15 juta tetapi belum dibayarkan hingga kini. Keputusan untuk tak membayar royalti tersebut dibuat Guy Hands, dari Terra Firma Group, perusahaan yang menaungi EMI. Padahal rencananya selanjutnya Citigroup akan mengambil kendali atas EMI sebelum akhir tahun ini.